Lima Puluh Kota, Hantaran.co— Tingginya frekuensi bencana yang melanda Kabupaten Lima Puluh Kota sepanjang semester pertama tahun 2026 menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota. Di tengah kondisi daerah yang rawan bencana, pemerintah berharap seluruh pemerintah nagari menjadikan penguatan Kelompok Siaga Bencana (KSB) sebagai prioritas, mengingat banyak KSB yang saat ini dalam kondisi vakum.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lima Puluh Kota, Zaimar Hakim, saat diwawancarai di Kantor BPBD, Kamis (9/7/2026), mengatakan KSB memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan, mitigasi, hingga penanganan awal ketika bencana terjadi di nagari.
“KSB sebenarnya sudah terbentuk di setiap nagari. Namun, saat ini banyak yang vakum sehingga perlu dilakukan penyegaran, terutama peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar kembali aktif menjalankan fungsinya,” ujar Zaimar.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat melalui KSB menjadi salah satu kunci dalam mengurangi risiko bencana. Sebab, kelompok tersebut merupakan pihak yang pertama kali berada di lokasi saat bencana terjadi sebelum bantuan dari pemerintah tiba.
“Kami berharap pemerintah nagari memberikan perhatian terhadap keberadaan KSB. Jangan hanya dibentuk, tetapi juga terus dibina, dilatih, dan diaktifkan kembali sehingga mampu menjadi ujung tombak kesiapsiagaan bencana di tingkat nagari,” katanya.
Data BPBD mencatat, sejak awal Januari hingga akhir Juni 2026 terdapat 41 kejadian bencana yang dilaporkan dan ditangani di Kabupaten Lima Puluh Kota. Bencana tersebut didominasi tanah longsor, banjir, serta cuaca ekstrem yang mengakibatkan pohon tumbang di berbagai wilayah.
Kecamatan Situjuah Limo Nagari menjadi salah satu daerah dengan intensitas bencana cukup tinggi, meliputi tanah longsor, banjir, dan cuaca ekstrem. Sementara Kecamatan Harau mengalami banjir, cuaca ekstrem, hingga kebakaran hutan dan lahan.






