BUKITTINGGI, HANTARAN.CO — Di tengah riuhnya arus libur panjang Lebaran yang belum surut, sebuah alternatif wisata yang tenang dan sarat makna justru mencuat ke permukaan. Desa wisata dan kampung wisata kini menjadi magnet baru, menawarkan ketenangan, keaslian, serta pengalaman berbeda yang jauh dari hiruk-pikuk kemacetan.
Masyarakat pun diimbau untuk memanfaatkan momentum ini dengan menjelajahi destinasi berbasis komunitas tersebut. Selain lebih nyaman, desa wisata dinilai mampu menghadirkan nuansa liburan yang lebih dekat dengan alam dan budaya lokal.
Moch Abdi, Tim Pemberdayaan dan Pengembangan Desa Wisata Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), menegaskan bahwa potensi desa wisata di Ranah Minang sangat besar dan terus berkembang.
Menurutnya, Sumatera Barat memiliki kekayaan alam yang memukau, bentang perbukitan yang hijau, hingga garis pantai eksotis yang berpadu dengan budaya dan tradisi yang masih terjaga. Keunggulan ini diperkuat dengan keberadaan ratusan desa wisata yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.
“Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui Jadesta dan Sisparnas 2024–2026, jumlah desa wisata di Sumatera Barat berkisar antara 561 hingga 580 lokasi. Ini menjadikan Sumatera Barat sebagai salah satu provinsi dengan jumlah desa wisata terbanyak di Indonesia,” ucapnya yang juga Ketua Pusat Pengembangan Desa Wisata Kreatif Fakultas Pariwisata UM Sumatera Barat
Sejak digulirkannya program Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) oleh Kemenparekraf pada 2021 hingga 2025, pengembangan desa wisata terus didorong sebagai strategi pelestarian budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat lokal.
Beragam pengalaman autentik ditawarkan desa wisata di Sumatera Barat. Mulai dari menikmati panorama alam, menyaksikan pertunjukan seni dan tradisi lokal, hingga berinteraksi langsung dengan masyarakat yang dikenal ramah dan terbuka.
Tak hanya itu, wisatawan juga dimanjakan dengan produk ekonomi kreatif seperti kerajinan tangan, cenderamata khas, hingga kuliner Minangkabau yang kaya akan rempah dan cita rasa.
Dari sisi akomodasi, pengalaman menginap di homestay menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung dapat merasakan tinggal di rumah gadang atau hunian tradisional lainnya, bahkan mencoba konsep camping dan glamping yang kini mulai berkembang di sejumlah lokasi.
Fasilitas pendukung seperti tempat ibadah, sanitasi, serta kebersihan lingkungan juga terus dibenahi untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan.
Pengelolaan desa wisata umumnya dilakukan oleh masyarakat setempat melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dengan pendampingan pemerintah. Hal ini menciptakan suasana pelayanan yang lebih hangat, personal, dan berkesan.





