Sementara itu, khutbah Idulfitri disampaikan oleh Ustad Asyam Hafiz, Lc, yang menekankan pentingnya menjaga ketakwaan sebagai esensi utama Ramadan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan ibadah tidak berhenti pada bulan suci, melainkan berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.
“Jika Ramadan telah pergi meninggalkan kita, namun amalan dan ibadah kita tidak mengalami penurunan, maka itulah makna takwa sesungguhnya,” ucapnya.
Ia juga mengajak jemaah untuk terus berbakti kepada orang tua, serta mempererat tali silaturahmi, terutama di momentum Idulfitri yang sarat nilai kebersamaan.
Menariknya, hingga seluruh rangkaian Salat Id dan khutbah selesai, hujan tak kunjung turun. Seolah memberi ruang bagi umat untuk beribadah dengan khusyuk. Gerimis baru mulai turun saat jemaah saling bersalaman dan bersilaturahmi.
“Alhamdulillah, salat usai, hujan turun. Ini adalah rahmat dari Allah Subhanahu wata’ala,” ujar Ketua DPRD Kota Solok, Fauzi Rusli, yang turut hadir di tengah masyarakat.
Di bawah rintik hujan, suasana Lapangan Merdeka tetap hidup. Warga saling berpelukan, bertukar maaf dan merajut kembali tali silaturahmi. Anak-anak berlarian riang, sementara orang tua larut dalam hangatnya perjumpaan.
Pagi itu, Idulfitri di Kota Solok bukan sekadar perayaan. Ia hadir sebagai perwujudan kebersamaan, kesederhanaan, dan rasa syukur yang jatuh perlahan bersama rintik hujan. (*)