Guru terdahulu, katanya, dikenal kuat dalam membangun karakter, kedisiplinan dan keteladanan. Sementara guru era digital memiliki kelebihan dalam inovasi pembelajaran, serta pemanfaatan teknologi.
“Ketika dua kekuatan ini dipadukan, pendidikan akan menjadi lebih seimbang, teknologi berjalan seiring nilai moral, kreativitas berpadu dengan keteladanan dan kecanggihan tetap berpijak pada kemanusiaan,” katanya.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, nilai luhur profesi guru tetap menjadi fondasi utama dalam proses pendidikan. Kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian terhadap peserta didik merupakan ruh yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun.
Jika dahulu guru mengajar dengan suara lantang di depan kelas, kini sebagian proses pembelajaran dapat berlangsung melalui layar dan jaringan internet. Namun hakikatnya tetap sama, yakni menyalakan cahaya ilmu dalam hati para peserta didik.
Transformasi yang terjadi di SDN 31 Payakumbuh menjadi gambaran bahwa masa depan pendidikan bergantung pada kemampuan memadukan kekuatan karakter dengan pemanfaatan teknologi secara bijak, demi mencetak generasi yang cerdas, berakhlak dan siap menghadapi tantangan zaman. (*)





