PAYAKUMBUH, HANTARAN.CO — Dunia pendidikan terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Perubahan tersebut turut membawa pergeseran besar dalam peran guru sebagai garda terdepan pembelajaran, dari era kapur tulis hingga memasuki masa layar digital dan teknologi interaktif.
Komitmen transformasi itu sejalan dengan dukungan Kepala Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh, Nalfira, terhadap pendampingan program digitalisasi sekolah di daerah tersebut. Salah satu sekolah yang mulai mengimplementasikan perubahan tersebut adalah SDN 31 Payakumbuh.
Di sekolah ini, transformasi tidak hanya menyentuh media pembelajaran, tetapi juga cara berpikir, pola komunikasi, hingga pendekatan dalam membentuk karakter peserta didik.
Guru SDN 31 Payakumbuh, Sri Susanti Mirza, menjelaskan bahwa pada masa lalu guru dikenal sebagai figur yang sangat dihormati. Papan tulis dan kapur menjadi perangkat utama dalam menyampaikan pelajaran, sementara metode pembelajaran lebih banyak didominasi ceramah, hafalan dan latihan tertulis.
“Murid duduk tertib dan menempatkan guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Dari didikan mereka tumbuh generasi yang sederhana, tangguh, serta menjunjung tinggi rasa hormat kepada guru,” ujarnya, Senin (2/3/2026).
Memasuki era digital, menurut Sri Susanti, ruang kelas kini mengalami perubahan signifikan. Guru masa kini kerap disebut sebagai bagian dari generasi pendidik baru yang adaptif terhadap teknologi.
Ruang belajar tidak lagi terbatas pada papan tulis, melainkan dilengkapi proyektor, laptop, hingga gawai. Pembelajaran pun berlangsung melalui video, kuis daring, presentasi interaktif, serta diskusi kolaboratif yang mendorong partisipasi aktif peserta didik.
Dalam kondisi tersebut, peran guru juga mengalami pergeseran. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, melainkan berfungsi sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam menggali pengetahuan dari berbagai sumber.
“Guru dituntut kreatif, adaptif dan komunikatif, agar mampu menjembatani kemajuan teknologi dengan nilai-nilai pendidikan,” ucapnya.
Melalui pendekatan tersebut, peserta didik didorong untuk berpikir kritis, berani menyampaikan pendapat, serta menghargai perbedaan dalam diskusi. Hubungan antara guru dan murid pun berkembang menjadi lebih humanis dan terbuka.
Sri Susanti menegaskan bahwa perbedaan antara guru zaman dahulu dan guru masa kini tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya memiliki keunggulan masing-masing dalam membentuk proses pendidikan yang utuh.





