rekrutmen
BeritaPeristiwa

“Hanyut Bersama Rumahnya, Liza Bertahan di Batang Kelapa: Tangis Korban Banjir Bandang Padang yang Menanti Tempat Pulang”

0
×

“Hanyut Bersama Rumahnya, Liza Bertahan di Batang Kelapa: Tangis Korban Banjir Bandang Padang yang Menanti Tempat Pulang”

Sebarkan artikel ini
Tangis Korban Banjir Bandang Padang yang Menanti Tempat Pulang
Tangis Korban Banjir Bandang Padang yang Menanti Tempat Pulang. ist

PADANG, HANTARAN.co — Hujan belum sepenuhnya reda ketika suara gemuruh datang dari hulu. Dalam hitungan detik, arus bah menerjang Kampung Apa, Kelurahan Ikua Koto, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Di tengah kegelapan malam Kamis (27/11/25) itu, Liza Febria hanya ingat rumahnya berguncang sebelum akhirnya hanyut, meninggalkan dirinya terdampar di batang sebatang kelapa satu-satunya yang membuatnya bertahan hidup.

Banjir bandang yang datang mendadak tersebut memporak-porandakan pemukiman warga. Sejumlah rumah rusak parah, bahkan sebagian hanyut bersama barang berharga yang tak sempat diselamatkan.

Liza mengisahkan detik-detik mencekam saat keluarganya tercerai-berai oleh derasnya arus.
“Keluarga terpisah-pisah ketika banjir bandang datang, dan saya terdampar di pohon kelapa yang tak jauh dari rumah,” ungkapnya sembari menahan haru.

Meski bantuan logistik mulai berdatangan, Liza mengaku kebutuhan terpenting kini adalah tempat tinggal.
“Pakaian, makanan, sudah cukup. Tapi ketika orang pulang ke rumahnya, ibu mau pulang ke mana?” sementara tinggal di Masjid. tuturnya lirih.

Di lokasi yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan pemerintah akan segera membangun kembali rumah-rumah warga yang hanyut di area yang lebih aman. Usai berdiskusi dengan Wali Kota Padang, ia memastikan pendataan dilakukan sesegera mungkin.

Selain itu, pemerintah pusat juga menambah suplai bantuan bahan pokok untuk para korban.
“Kita minta drop yang lebih banyak. Saya minta dua kali lipat untuk daerah-daerah bencana di Sumatera, termasuk Sumatera Barat,” ujarnya.

Warga kini hanya bisa berharap proses pemulihan berlangsung cepat. Di antara tumpukan puing dan lumpur, mereka menunggu saat dapat kembali memiliki tempat yang bisa disebut rumah. (h/irh)