Padangpariaman, hantaran.Co–Komunitas pecinta motor legendaris Honda Tiger yang tergabung dalam Honda Tiger Club Indonesia (HTCI) kembali menorehkan sejarah dengan melaksanakan Pemilu Raya secara serentak di seluruh pengurus daerah pada Sabtu pekan lalu. Agenda nasional ini menjadi salah satu momen penting dalam proses demokrasi internal organisasi yang telah berdiri sejak dua dekade lalu.
Pengurus Daerah (Pengda) HTCI Sumatera Barat mengambil peran besar dalam penyelenggaraan Pemilu Raya dengan menjadikan Kota Bukittinggi sebagai pusat kegiatan. Sebanyak 11 klub Honda Tiger dari berbagai kabupaten dan kota di Sumbar hadir untuk menyalurkan hak suara, mencerminkan antusiasme tinggi anggota terhadap arah kepengurusan nasional periode mendatang.
Pemilu Raya tahun ini menjadi momentum strategis bagi HTCI dalam menentukan figur Ketua Umum Pengurus Pusat untuk periode 2025–2029. Seiring dinamika dunia otomotif dan bertambahnya jumlah anggota, organisasi dianggap membutuhkan pemimpin yang mampu beradaptasi dan menjaga soliditas antarklub di seluruh Indonesia.
Ketua KPUD Pengda HTCI Sumbar, M. Farhan Navis Alvindo, menyampaikan bahwa Pemilu Raya bukan sekadar agenda lima tahunan, melainkan wujud kedewasaan berdemokrasi di tubuh HTCI. Ia menegaskan bahwa pelaksanaan secara serentak di seluruh Indonesia menunjukkan komitmen organisasi terhadap proses yang transparan, jujur, dan berintegritas. “Pemilu raya ini menjadi bukti kedewasaan organisasi dan semakin menguatkan semangat brotherhood,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Selain pemilihan, kegiatan di Bukittinggi juga dirangkaikan dengan Musyawarah Kerja Daerah (Muskerda) 2025. Forum tersebut membahas berbagai agenda strategis, mulai dari penyusunan arah program kerja hingga penguatan tata kelola administrasi klub di tingkat daerah.
Ketua Pengda HTCI Sumatera Barat, Ucok Lubis, menyampaikan apresiasi terhadap semangat dan disiplin peserta yang terlibat dalam seluruh rangkaian kegiatan. Ia mengatakan bahwa Pemilu Raya dan Muskerda 2025 berlangsung tertib, terarah, dan menunjukkan kuatnya komitmen anggota dalam memajukan organisasi. Ia berharap kepengurusan pusat nantinya lebih energik, adaptif, dan mampu menjawab tantangan perkembangan dunia otomotif.
Dalam bursa Pemilu Raya, tiga nama resmi maju sebagai kandidat Ketua Umum Pengurus Pusat periode 2025–2029. Mereka adalah Lie Men dari Lampung dengan nomor urut 01, M. Irwan dari Jawa Tengah dengan nomor urut 02, serta Ardi dari Lombok dengan nomor urut 03. Ketiga kandidat kini menjadi perhatian seluruh anggota HTCI dari Sabang hingga Merauke.
Para kandidat diharapkan mampu menawarkan visi dan gagasan yang dapat membawa HTCI menjadi organisasi yang semakin solid, terstruktur, dan berdaya saing. Anggota menaruh harapan besar agar kepemimpinan mendatang mampu memperkuat kultur brotherhood yang telah menjadi identitas HTCI sejak didirikan.
Rangkaian kegiatan di Bukittinggi ditutup dengan pembacaan komitmen bersama yang menegaskan pentingnya menjaga kekompakan dan sinergi antarklub. Komitmen itu sekaligus menegaskan bahwa HTCI akan terus menjaga nilai persaudaraan, solidaritas, dan tanggung jawab sosial dalam setiap aktivitasnya.
Sejarah Berdiri
Honda Tiger sebagai motor yang melahirkan komunitas besar HTCI pertama kali diproduksi oleh PT Astra Honda Motor (AHM) pada 1993 dan berhenti diproduksi pada 2014. Motor sport berkapasitas mesin tertinggi yang dikeluarkan AHM itu memperoleh sambutan hangat dari pasar Indonesia dan melahirkan komunitas-komunitas Tiger di berbagai daerah.
Perkembangan klub Honda Tiger dapat dibagi ke dalam dua periode, yaitu Pra HTCI (1993–2004) dan Pasca HTCI (2004–sekarang). Pada periode awal, berbagai klub telah berdiri di sejumlah kota besar seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Lombok, Makassar, Banjarmasin, Medan, Padang, hingga Palembang. Tonggak pentingnya adalah berdirinya Tiger Association Bandung (TAB) pada 23 Mei 1994.
Pada periode 1993–2004, klub-klub Tiger aktif menggelar berbagai kegiatan berskala besar yang mempertemukan antarkomunitas dari berbagai daerah. Kegiatan tersebut menjadi sarana memperkuat solidaritas, memberikan dampak sosial positif, serta meningkatkan kesadaran keselamatan berkendara di kalangan pengguna Honda Tiger. Kegiatan-kegiatan inilah yang kemudian memunculkan gagasan menyatukan seluruh klub Tiger dalam satu organisasi nasional.
Gagasan awal pembentukan organisasi nasional dirumuskan oleh Teddy Supriadi atas permintaan Indra Panca. Proposal tersebut dibahas melalui serangkaian diskusi intensif di sekretariat TAB sejak September 2003, melibatkan sejumlah tokoh seperti Benny Adityo, Saeful Arifin, Rudi Karpidol, dan Erland Friorie. Diskusi juga mencakup pembahasan nama organisasi, struktur, hingga AD/ART.
Nama Honda Tiger Club Indonesia (HTCI) akhirnya disepakati setelah pembahasan panjang dan untuk pertama kalinya digunakan pada Jambore Nasional HTCI di Pantai Slaki, Lampung, pada 29–30 Mei 2004. Meski rencana deklarasi sempat batal akibat musibah, proses persiapan berlanjut hingga diputuskan deklarasi HTCI dilakukan pada perayaan 1 Dekade TAB, 9–10 Oktober 2004.
Musyawarah Nasional (Munas) I HTCI digelar pada 9 Oktober 2004 di Wisma Muladi TNI AU Lanud Husein Sastranegara, Bandung, dan dihadiri 41 klub dari berbagai provinsi di Indonesia. Forum tersebut menjadi landasan awal pembentukan struktur nasional HTCI dan menegaskan eksistensinya sebagai payung komunitas Honda Tiger di Indonesia.
Deklarasi resmi HTCI berlangsung pada 10 Oktober 2004 di Lanud Husein Sastranegara. Ikrar dibacakan oleh Indra Panca, Rio Harahap, dan Teddy Supriadi, disaksikan oleh para ketua klub serta Komandan Lanud Husein Sastranegara, Kolonel Penerbang Djamhari. Acara ditutup dengan pemotongan tumpeng 1 Dekade TAB dan pengumuman rekor IBOR berupa parkir motor Tiger terbanyak sebanyak 1.553 unit.







