AGAM, HARNTARAN.Co – Pemerintah Kabupaten Agam membuka 26 titik dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makanan warga yang terdampak bencana banjir bandang dan longsor akibat intensitas hujan tinggi sejak 22 hingga 28 November 2025.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Agam, Villa Erdi, menjelaskan bahwa dapur umum tersebut berasal dari kolaborasi Dinas Sosial, BPBD serta pemerintah nagari yang tersebar di 16 kecamatan.
“Kami mendirikan dapur umum di Nyiur, Malalak Timur, Kecamatan Malalak untuk korban banjir bandang di daerah itu. Untuk BPBD Agam dibangun di Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya untuk korban banjir bandang di daerah itu,” sebutnya.
Menurutnya, pemerintah kabupaten langsung menginisiasi dua dapur umum, sementara sisanya didirikan melalui dukungan dan partisipasi pemerintah nagari.
Dapur umum bantuan nagari tersebar di berbagai lokasi, di antaranya Nagari Koto Tangah (Tilatang Kamang), Nagari Balingka (Ampek Koto), Nagari Sungai Batang (Tanjung Raya), Nagari Sungai Landia (Ampek Koto), Nagari Pasia Laweh (Palupuah), Nagari Bawan (Ampek Nagari), Nagari Sitanang (Ampek Nagari), Nagari Koto Kaciak (Tanjung Raya), Nagari Pagadih (Palupuh).
Lalu di Nagari Tiku V Jorong (Tanjung Mutiara), Nagari Tigo Koto Silungkang (Palembayan), Nagari Ampek Koto Palembayan (Palembayan), Salareh Aia Timur (Palembayan), Salareh Aia Barat (Palembayan), Nagari Duo Koto (Tanjung Raya), Nagari Paninjauan (Tanjung Raya), Nagari Bayua (Tanjung Raya).
Kemudian, Nagari Koto Tuo (Ampek Koto), Nagari Dalko (Tanjung Raya), Salareh Aia (Palembayan), Nagari Koto Gadang (Tanjung Raya), Nagari Maninjau (Tanjung Raya), Nagari Sungai Batang (Tanjung Raya), Nagari Tanjung Sani (Tanjung Raya), dan Nagari Koto Malintang (Tanjung Raya).
“Masih ada pemerintah nagari lainnya yang bakal mendirikan dapur umum,” tambah Villa Erdi.
Ia menjelaskan bahwa perlengkapan dapur sepenuhnya disiapkan oleh masing-masing nagari. Untuk kebutuhan operasional maupun bahan makanan, nagari dapat memanfaatkan bantuan dari pemerintah kabupaten serta dana desa yang telah dialokasikan untuk keadaan darurat bencana sebesar kurang lebih tiga persen.
“Sudah ada pergeseran dana desa untuk kebutuhan dapur umum korban bencana alam,” tuturnya.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat hambatan dalam pemenuhan logistik. Banyak daerah terdampak berada dalam kondisi terisolasi karena jalan terputus, menyebabkan sulitnya mendapatkan bahan memasak seperti beras, gas LPG, dan kebutuhan pokok lainnya.
Kendala serupa juga dialami dapur umum Dinas Sosial di Malalak. Persediaan bahan makanan mulai menipis, sementara akses keluar lokasi untuk membeli kebutuhan belum memungkinkan.
“Ada jalan yang tertimbun longsor ke lokasi tempat kita membeli bahan kebutuhan pokok. Apabila sudah selesai dibersihkan, maka bisa ke pasar untuk membeli kebutuhan pokok,” jelasnya. (h/dpt)






